✨"Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur"

Media Network
Bugar

KONI Lepas Kontingen Tenis Meja Indonesia ke Taiwan, 15 Atlet Muda Siap Bertanding

Kontingen tenis meja Indonesia membawa 15 atlet usia muda ke Taiwan setelah lolos Seleknas PB PTMSI dan dijadwalkan berangkat 13 Agustus 2026.

JAKARTA — Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman melepas kontingen tenis meja Indonesia yang akan mengikuti kejuaraan internasional di Taiwan.

Prosesi pelepasan berlangsung di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Sebanyak 15 atlet muda memperkuat Indonesia dalam ajang tersebut.

Para pemain berasal dari kelompok usia U-11, U-12, U-13, dan U-15 putra serta putri.

Advertisement

Selain itu, PB PTMSI menyertakan atlet berusia 10 tahun untuk menambah pengalaman bertanding sejak usia dini.

Ketua Umum PB PTMSI Peter Layardi Lay turut menghadiri pelepasan bersama Wasekjen PB PTMSI Danny Rotinsulu.

Advertisement

Sejumlah Wakil Ketua Umum KONI Pusat juga mengikuti kegiatan tersebut.

Rombongan kontingen tenis meja Indonesia dijadwalkan bertolak menuju Taiwan pada 13 Agustus 2026.

Advertisement

Marciano meminta seluruh atlet memanfaatkan pertandingan internasional untuk meningkatkan kemampuan dan mental bertanding.

Menurutnya, pemain muda perlu tampil tanpa beban agar memperoleh pengalaman maksimal dari setiap pertandingan.

Advertisement

15 Atlet Muda Lolos Seleksi Nasional PB PTMSI

Peter Layardi Lay menjelaskan seluruh pemain yang berangkat merupakan hasil Seleksi Nasional atau Seleknas.

PB PTMSI menggelar proses penjaringan tersebut sekitar satu bulan sebelum keberangkatan.

Advertisement

Seleksi itu menentukan atlet yang dianggap siap mewakili Indonesia dalam kelompok umur masing-masing.

Dengan demikian, kontingen tenis meja Indonesia membawa pemain berdasarkan hasil proses kompetitif di tingkat nasional.

Advertisement

Kelompok U-11 menjadi salah satu kategori yang mendapat perhatian dalam program pembinaan.

Selain itu, PB PTMSI menurunkan pemain U-12, U-13, dan U-15.

Komposisi tersebut menunjukkan fokus federasi terhadap pembinaan jangka panjang.

Atlet berusia 10 tahun juga memperoleh kesempatan mengikuti perjalanan internasional kali ini.

PB PTMSI ingin memberikan jam terbang sejak pemain memasuki tahap awal pembinaan prestasi.

Pengalaman menghadapi lawan dari negara lain dapat membantu pemain mengenal standar pertandingan internasional.

Selain teknik, pertandingan luar negeri menguji konsentrasi, keberanian, dan kemampuan mengambil keputusan.

Karena itu, hasil pertandingan bukan satu-satunya ukuran dalam program pembinaan usia dini.

KONI Pusat juga melihat pengalaman internasional sebagai investasi untuk masa depan prestasi olahraga Indonesia.

Marciano berharap pembinaan konsisten dapat melahirkan pemain berkelas dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Empat Pelatih Dampingi Kontingen di Taiwan

PB PTMSI menyiapkan empat pelatih untuk mendampingi kontingen tenis meja Indonesia selama berada di Taiwan.

Tim pelatih terdiri dari Danny Rotinsulu, Budiono, Silir Rofany, dan Nida.

Mereka akan mendampingi pemain selama persiapan hingga pertandingan berlangsung.

Pendampingan menjadi penting karena kontingen membawa atlet dari beberapa kelompok usia berbeda.

Pelatih perlu membantu pemain menyesuaikan strategi dengan karakter lawan yang mereka hadapi.

Selain itu, tim pelatih harus menjaga kesiapan fisik dan mental pemain selama kompetisi.

Turnamen internasional juga memberikan kesempatan kepada pelatih untuk mengevaluasi perkembangan atlet secara langsung.

Hasil evaluasi kemudian dapat menjadi dasar program latihan setelah pemain kembali ke Indonesia.

KONI meminta PB PTMSI mempertahankan pola pembinaan tersebut secara berkelanjutan.

Marciano menilai atlet muda membutuhkan pertandingan sebanyak mungkin untuk meningkatkan kematangan mereka.

Karena itu, federasi perlu memperbanyak partisipasi dalam berbagai open tournament internasional.

Semakin tinggi kualitas lawan, semakin besar pengalaman yang dapat diperoleh pemain.

Marciano Minta Atlet Bertanding Tanpa Beban

Marciano Norman memberikan pesan khusus kepada kontingen tenis meja Indonesia menjelang keberangkatan.

Ia meminta pemain tidak menjadikan target sebagai tekanan berlebihan selama pertandingan.

Menurutnya, atlet muda perlu bermain lepas dan berani menerapkan kemampuan yang telah mereka latih.

Pendekatan tersebut dapat membantu perkembangan mental bertanding secara alami.

Kemenangan tentu menjadi hasil yang diharapkan dalam setiap pertandingan.

Namun, KONI juga menempatkan pembentukan kualitas atlet sebagai tujuan jangka panjang.

Marciano memperkirakan hasil pembinaan konsisten dapat terlihat dalam rentang sekitar lima tahun.

Dalam periode tersebut, atlet muda diharapkan berkembang menjadi pemain andalan Indonesia.

Karena itu, federasi perlu mempertahankan kesinambungan kompetisi dan program latihan.

Pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan latihan rutin di dalam negeri.

Pertandingan internasional memberikan situasi berbeda yang sulit diperoleh melalui latihan biasa.

Selain kualitas lawan, pemain menghadapi tekanan pertandingan dan lingkungan baru.

Pengalaman semacam itu akan membentuk kedewasaan atlet dalam menghadapi kompetisi besar.

PB PTMSI Fokus Perbanyak Jam Terbang Internasional

Keberangkatan ke Taiwan menjadi bagian dari strategi pembinaan pemain muda PB PTMSI.

Federasi ingin memberikan pengalaman internasional lebih awal kepada atlet potensial.

Melalui kontingen tenis meja Indonesia, pemain dapat mengukur kemampuan mereka menghadapi kompetitor dari negara lain.

Hasil pertandingan juga membantu pelatih melihat aspek yang masih perlu diperbaiki.

Teknik, kecepatan, strategi, hingga ketahanan mental dapat dievaluasi melalui pertandingan nyata.

Selanjutnya, PB PTMSI dapat menyesuaikan program latihan berdasarkan kebutuhan masing-masing atlet.

KONI Pusat mendorong federasi terus mengikuti berbagai turnamen terbuka di luar negeri.

Langkah tersebut diharapkan menciptakan generasi pemain yang terbiasa menghadapi persaingan internasional.

Peter Layardi Lay juga menempatkan Seleknas sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas pembinaan.

Persaingan sejak tingkat nasional memberi motivasi kepada pemain muda untuk terus meningkatkan kemampuan.

Pada akhirnya, perjalanan ke Taiwan bukan hanya mengejar hasil pada satu kejuaraan.

Program tersebut menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk prestasi tenis meja Indonesia.

Dengan pembinaan berjenjang, seleksi kompetitif, dan jam terbang internasional, PB PTMSI menargetkan lahirnya atlet berprestasi dunia.

Berita Terkait

Advertisement

Refli Puasa

Jurnalis waktu.news yang aktif meliput berita daerah Sulawesi Utara, Travel, politik, dan Olahraga. Aktif di dunia blogging sejak 2003 dan jurnalisme sejak 2010. Anggota SPRI.

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button